Kenapa PINTAR Tak Menjamin Pemimpin Berhasil Menggerakkan Orang Lain?

Anda telah menghabiskan puluhan tahun membangun kompetensi teknis, mengasah insting bisnis, dan memperluas jaringan strategis. Namun, di ruang rapat direksi atau meja negosiasi yang menentukan masa depan perusahaan, semua itu seringkali tidak cukup.

Tak jarang fenomena pahit ini terjadi: Pemimpin yang paling pintar di ruangan justru gagal mendapatkan persetujuan anggaran atau memenangkan dukungan stakeholder.

Masalahnya bukan pada apa yang Anda ketahui, melainkan pada Invisible Leaks (kebocoran tak terlihat) dalam cara Anda menyampaikan pesan. Invisible Leaks adalah sinyal-sinyal bawah sadar, pola bahasa, atau perilaku yang tidak Anda sadari namun secara perlahan mengikis otoritas dan kredibilitas Anda di mata audiens. Seperti apa itu? lanjut membaca ya.

Kebanyakan saran komunikasi konvensional hanya fokus pada permukaan, seperti: berdiri tegak, jaga kontak mata, dan gunakan gestur yang tepat. Bagi seorang pemimpin, ini adalah saran yang dangkal.

Kegagalan komunikasi di level tinggi biasanya disebabkan oleh Curse of Knowledge (Kutukan Pengetahuan)dimana Anda merasa pesan yang disiapkan sudah sangat jelas karena Anda memahaminya secara mendalam. Namun tanpa disadari, audiens Anda mendengar irama yang berbeda. Audiens tak memahami apa yang Anda pahami, atau audiens memahaminya dengan pemahaman berbeda. Ini adalah salah satu Invisible Leaks yang paling sering dilakukan Pemimpin saat bicara dan berkomunikasi.

Tak berhenti di situ. Lebih lanjut Anda merasa yakin dengan pentingnya pesan yang Anda sampaikan, namun audiens tidak merasakan tingkat ‘penting’ secara sama. Lebih buruk lagi, Anda tidak menyadarinya, merasa audiens memahami dan meyakini sesuai pemahaman dan keyakinan Anda. Di akhir, Anda bingung kenapa audiens tidak mengikuti atau bergerak sesuai harapan.

PINTAR itu penting, namun sering menjebak pikiran dengan meniupkan khayalan bahwa, “Kamu tahu segalanya, termasuk ekspektasi dan harapan orang-orang di depanmu…”, dan bisikan itu sering salah.

Karenanya, sebelum Pemimpin bicara kepada audiens atau orang lain, Pemimpin perlu memikirkan satu pertanyaan penting:

“Apa ekspektasi audiens / orang itu terhadap saya?”

Dengan memenuhi ekspektasi audiens, Anda akan lebih mudah menggiring mereka ke arah yang Anda inginkan.


Ditulis oleh:
Dr. Surya Kresnanda

Exit mobile version