Seorang Pemimpin berdiri di podium dalam pertemuan tahunan pemegang saham untuk mengumumkan arah strategis baru perusahaan. Secara materi, pidatonya sempurna. Datanya akurat dan visi masa depannya sangat menjanjikan. Namun, di barisan kursi terdepan, para investor utama merasakan sesuatu yang mengganjal. Meskipun para investor tersebut tidak memiliki latar belakang pendidikan formal di bidang psikologi atau komunikasi, mereka secara kolektif merasakan sebuah keraguan yang sulit dijelaskan.
Ketidaknyamanan ini muncul bukan karena isi pidatonya, melainkan karena Invisible Leaks (kebocoran tak terlihat) berupa sinyal tak sadar pada tubuh Sang Pemimpin. Saat ia (Pemimpin) berbicara tentang ‘kepastian pertumbuhan’, terdapat micro gestures tak biasa seperti kedipan mata yang terlalu cepat, ketegangan halus di otot rahangnya, dan juga gigitan kecil pada bibir bawah, dimana sinyal ini tak muncul saat membahas hal lainnya. Tanda-tanda tersebut mengirimkan sinyal keraguan, membuat para Investor merasa, “Sepertinya dia sendiri ragu tentang kepastian pertumbuhan yang ia sampaikan…”

Fenomena ini terjadi karena manusia secara alami adalah ‘mesin penafsir’ yang menilai orang lain lebih berdasarkan penampilan dan isyarat bawah sadar daripada pengalaman langsung atau data statistik (Greene, 1998). Para investor (apalagi yang jam terbangnya tinggi) bisa membaca sinyal keraguan pada diri Sang Pemimpin, bahkan tanpa perlu mendefinisikannya secara logis.
Pemimpin dalam kisah ini terjebak dalam kondisi incongruence, di mana batinnya tidak selaras dengan kata-kata yang diucapkan (Horton, 2006). Bisa jadi sebabnya karena memang ada keraguan di diri Sang Pemimpin, akibat rasa takut gagal atau kurang percaya diri.
Sistem saraf pada manusia mampu mengkalibrasi ketidakselarasan tersebut sebagai bentuk ketidakterbukaan atau kurangnya rasa percaya diri, dan itulah yang dirasakan oleh para Investor di posisi audiens. Akibatnya, wibawa Sang Pemimpin terkikis dalam hitungan detik, dan situasi tersebut mengubur seluruh kelebihan berupa kelengkapan data dan fakta yang ia paparkan.
Untuk menghindarinya, ada 3 teknik yang bisa dilakukan:
- Pemimpin perlu melatih kejernihan pikiran, jauh sebelum ia melangkah naik ke panggung untuk berbicara. Salah satu solusi teknisnya adalah melalui metode Mental Simulation atau simulasi penerbangan mental, dimana Sang Pemimpin perlu memvisualisasikan seluruh jalannya pidato, termasuk kemungkinan gangguan atau interupsi, untuk membangun kesiapan secara psikologis (Heath & Heath, 2007).
- Sang Pemimpin juga bisa berlatih melakukan State of Excellence, yaitu proses mengakses kembali memori kesuksesan masa lalu, memasukkannya ke diri hari ini, merasakannya kembali sebagai sumber kekuatan percaya diri. Kepercayaan diri yang dibangun dengan State of Excellence, meski efeknya singkat, bisa segera diakses kala rasa ragu menyerang. Saat emosi terjaga dalam percaya diri tinggi, micro gestures yang menunjukkan keraguan pun tak terlihat.
- Solusi ketiga, dengan melakukan Tactical Pauses (jeda taktis) untuk menenangkan sistem sarafnya sendiri sekaligus memberikan waktu bagi audiens untuk menyerap bobot dari setiap kalimatnya (Ryzov, 2019). Teknik ini dilakukan dengan berhenti sejenak, memberi ruang berpikir logis sembari menarik nafas untuk menenangkan diri. Hal ini bisa menjaga Sang Pemimpin untuk tetap memegang kendali saat rasa ragu menyerang sehingga terhindari dari micro gestures yang tidak perlu.
Ketiga teknik di atas, bisa saling mendukung. Mental Stimulation dilakukan jauh sebelum Sang Pemimpin naik panggung, yaitu saat persiapan dan latihan. State of Excellence dilakukan beberapa menit sebelum waktu bicara di atas panggung. Tactical Pause menjadi teknik andalan kala menghadapi audiens secara riil, di tengah proses bicara dan pidato berlangsung.
Bahkan di tengah Tactical Pause, Sang Pemimpin bisa melakukan State of Excellence lagi sembari memberi waktu pada diri dan audiens di dalam jeda.
Pada akhirnya teknik mana pun yang digunakan, kunci utama adalah berlatih. Maka latih ketiga teknik di atas secara berulang, sehingga terasa lebih mudah saat akan melakukannya.
Ditulis oleh:
Dr. Surya Kresnanda